
(Vibizdaily - Internasional) Prancis meluncurkan satelit mata-mata militer Jumat, bagian dari peningkatan dalam pengeluaran untuk pengamatan independen, kata beberapa pejabat ruang angkasa.
Itu merupakan peluncuran pertama sebuah satelit jenis ini di bawah Presiden Nicolas Sarkozy, yang telah membawa kembali Prancis ke komando militer NATO awal tahun ini setelah empat dasa warsa kekosongan.
Sementara bekerja sama lebih dekat dengan AS dalam perencanaan militer, Prancis melihat akses independen ke intelijen ruang angkasa sebagai prioritas strategis.
Satelit itu, Helios 2B, diluncurkan dengan roket Ariane Eropa pada pukul 1626 GMT (pukul 23.26 WIB) dari tempat peluncuran Badan Ruang Angkasa Eropa di Kourou, Guyana Prancis, di pantai timurlaut Amerika selatan.
Satelit itu pisah dari roket Ariane 59 menit kemudian.
Pada awalnya satelit itu dijadwalkan diluncurkan pada 9 Desember, penghitungan detik-detik terakhir dihentikan beberapa jam sebelum peluncuran ketika masalah teknis dalam sub-sistim helium roket terdeteksi.
Upaya kedua untuk meluncurkan satelit itu dihentikan Kamis lima menit sebelum peluncuran.
"Misi pertama alat ini adalah untuk menjamin analisis independen Prancis guna mendapatkan data intelijen seluruh dunia," kata Kepala Program Helios Komando Militer Prancis Letnan Kolonel Christophe Morand pada taklimat di Kourou sebelum peluncuran yang gagal pekan lalu.
"Kita harus dapat memberi bukti kepada Presiden bahwa pada saat konflik suatu negara telah melanggar kedaulatan nasional negara lain," kata Morand.
Intelijen lebih baik
Helios B2 adalah yang kedua dari serangkaian "mata-mata di langit" generasi baru yang dibuat oleh divisi ruang angkasa perusahaan induk Airbus, EADS. Pendahulunya diluncurkan pada 2004.
Satelit generasi sebelumnya, Helios 1 yang diluncurkan roket Ariane pada 1995 dan 1999, kurang canggih.
Para pejabat pertahanan mengatakan sistim infra-merah Helios 2 memungkinkan penemuan aktivitas kemanusiaan. Mereka mengatakan sistim itu dapat menuturkan apakah konvoi truk bergerak atau berhenti dan apakah sebuah reaktor nuklir beroperasi atau tidak.
Sistim itu juga mampu beroperasi pada waktu malam tapi tidak dapat menangkap citra gambar melewati awan.
Satelit itu akan membantu dalam mempersiapkan misi dan menilai ancaman, dan juga melukiskan tempat-tempat yang belum dipetakan di Irak, Afghanistan, Chad dan wilayah Darfur di Sudan.
Para pejabat pertahanan menyatakan pengungkapan kapasitas satelit itu secara rinci tidak dapat diumumkan.
Halios pada awalnya direncanakan sebagai rangkaian satelit Eropa Raya untuk mengatasi dominasi intelijen ruang angkasa AS pada saat Perang Dingin. Bagaimanapun, mitra Eropa Prancis kurang keinginannya untuk berpartisipasi dalam soal keuangan dalam program Helios 2.
Program Helios 1 generasi pertama pada 1990-an menarik sumbangan seluruhnya 21 persen dari Spanyol dan Itali. Namun Prancis membiayai 90 persen dari 2 miliar euro (3 miliar dolar) rangkaian Helios 2 dengan Itali, Belgia, Spanyol dan Yunani menyumbang 10 persen.
sumber: http://vibizdaily.com/detail/Internasional/2009/12/19/prancis_luncurkan_satelit_matamata_militer_baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar